Bab Favoritku | #CeritaDariLagu - Satu Bintang di Langit Kelam

#CeritaDariLagu adalah salah satu segmen tulisan yang kubuat setelah atau saat mendengarkan sejumlah lagu favoritku. Bisa dibilang interpretasi singkat (mungkin juga ngaco) dari lagu-lagu tersebut melalui cerita-cerita yang berputar di hidupku, bisa ceritaku, ceritamu, cerita mereka, atau obrolan singkat yang tidak sengaja kulakukan dengan orang asing, yang kemudian membuatku melihat lebih dalam dan merangkainya menjadi bait-bait yang mungkin bisa kau baca di waktu senggangmu. Oh iya, tulisan-tulisan ini kebanyakan sudah kuramu sejak 2018 tapi baru sempat dipublikasikan dan dibuatkan segmen khusus. Barangkali kau menemukan ceritamu, lagu favoritmu, hanya iseng baca lalu beberapa bait ingin kau kirimkan pada salah satu manusia di hidupmu atau kau bagikan ke dunia yang lebih luas, maka aku akan sangat berterima kasih. Selamat membaca!

Dua kata pertama adalah dirimu, kemudian aku harus menyikapi dengan tersadar bahwa aku hanyalah tiga kata terakhirnya. Lengkap dalam satu judul lagu favoritku. Cahaya yang berhasil masuk dan memberi nyawa tulisanku lagi. Lantas buku ini memiliki harapan hidupnya kembali.

Buku cerita ini adalah perjalanan, yang membawaku dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika masing-masing kota yang pernah kusinggahi adalah babnya, maka mungkin aku punya satu bab favoritku. Mungkin mereka tak suka, tapi biarlah, bukankah aku berhak memilih yang mana halaman favoritku?

    Mengapa suaramu selalu berhasil menjadi wujud tenang di dunia? Setidaknya kala aku belum terhanyut dalam hubungan dengan Pencipta Kita. Entah mantra apa yang kau sematkan dalam kalimat-kalimatmu. Hingga rasanya kau selalu hidup dalam hal-hal yang kubaca, hal-hal yang kudengar, dan hal-hal yang kulihat. Mudah sekali menemukanmu dalam apapun. Pada buku cerita yang baru selesai kubaca semalam, pada film yang baru selesai kutamatkan kemarin lusa, pada lagu-lagu favoritku. Aku masih belum bisa menemukan nama samaran untukmu. Kalau sudah, pasti judul tulisan ini sudah kuisi dengan nama itu. Maaf, kalau aku masih membawa namamu dalam halaman-halaman cerita ini. Aku juga bingung, bahkan jika aku harus jatuh pada ribuan karakter fiksi sekalipun, bisa kupastikan sekurang-kurangnya 30% dari dirinya akan selalu mengadopsi bagian dari dirimu. Bedanya kau nyata. Setidaknya di duniaku. Meski aku belum tahu wujudku di duniamu. Apakah aku merupa benalu yang mengganggumu? Atau benda langit favoritmu? Atau manusia biasa yang sekadar lalu kemudian hilang? Atau dinosaurus yang sudah punah? Atau ramalan-ramalan yang kauharapkan tak perlu jadi kenyataan? 

Atau luka menganga yang sengaja disembunyikan karena segala tentang kita selalu serba tak mungkin?

    Berulang kali aku menyangkal dan bertindak seolah hari-hari berikutnya hanya akan menyisakan kekosongan. Namun pertanyaan yang terus bersuara di sekitarku adalah bukti bahwa mereka tidak pernah melihat kita sebagaimana yang selalu berusaha kita tegaskan. Kalau boleh menulis paragraf panjang untukmu maka akan kulakukan dari sekarang. Lalu kemudian orang-orang akan bertanya

 "Dengan siapa perempuan itu kembali melabuhkan hati? Apakah sesuai perkiraan mereka? Apakah sesuai keadaan sebelumnya? Atau Ia hanya menceritakan soal orang-orang di sekitarnya? Atau Ia sedang sibuk membentuk karakter baru untuk mencegah persembunyiannya atas perasaan untuk laki-laki itu semakin terbongkar? Sampai kapan Ia hanya menghabiskan waktu bercerngkerama dengan kalimat-kalimatnya sendiri?"

    Kalau kata seterusnya bukan milik kita maka aku akan memilih begitu. Atau setidaknya aku akan terus menyebutkan apa-apa tentangmu dan mencarinya pada siapa pun yang ada setelah ini. Mungkin kalau kata egois dan dunia bisa kusihir menjadi semau-mauku maka aku juga ingin menyederhanakannya dengan bersamamu saja. Tapi ada banyak, banyak sekali hal di dunia yang tidak bisa serta merta kusederhanakan jadi perihal mauku. Bahkan persetujuanmu saja aku tidak punya. Memang beberapa kisah selalu menyajikan satu sisi yang tak berbatas. Berapa pun karakter yang akan kutulis pada prosa, puisi, cerita pendek, bahkan hingga niatku membukukan semuanya penuh seratus persen, maka setidaknya salah satunya akan menjadi dirimu. Entah sebagai pemeran utama, kedua, ketiga, atau mungkin pemeran cadangan seperti kedudukanku pada beberapa kisah belakangan. 

    Hari-hari di mana mereka mengira aku jarang menulis sesungguhnya adalah kebohongan belaka. Pada kenyataannya aku masih menulis, selalu, setiap hari. Hanya lebih banyak kusimpan dalam-dalam. Banyak sekali manusia di bumi yang sudah muak dengan perasaan jatuh hati dan kehilangan, atau mereka-mereka yang rela bertahun menjadi pemeran pengganti, juara kedua, dan pilihan kesekian. Muak juga dengan nasihat-nasihat positif tentang kehidupan. 

Pada akhirnya kita hanya ingin menikmati bukan?

    Sama. Perjalanan-perjalanan yang akan kuhadapi mungkin kadang terlihat jelas, kadang juga samar, kadang kabur. Aku bisa melihatmu hidup di sana, meski terkadang juga tidak. Tulisanku tentang sedih-sedih dan muram-muram itu tertahan dalam rahasia. Aku masih kuat menyimpannya sendiri, walau terkadang harus banyak kuceritakan pada huruf-huruf ini. Berdialog dalam diam. Setidaknya tidak perlu mendengar mending-mending yang lain, atau kemudian kembali sakit sendiri untuk tahu tidak ada yang benar-benar mendengar. Entah sampai kapan pun itu, aku masih akan terus mencari nama samaran untukmu. Jikalau pada keputusan terakhir aku tidak memilih untuk jatuh, kau telah memberikan lebih dari hal-hal yang pernah kubayangkan akan tumbuh di diri manusia lain.

Sebuah refleksi

    Kau tidak perlu mencari, berbesar kepala, atau menyimpan ragu untuk bertanya tulisan ini untuk siapa. Aku belum akan menjawabnya. Kalau salah satu dari tebakanmu benar. Selamat! 

Kau telah menemukan seseorang yang masih terus mendoakanmu

   

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

OSPADA 2013 - 2014

Rainbow#JanganDibukaWaktuMalamJum'at

MOS 2014 (7E Papua)