harusnya waktu itu aku menjawab iya.
"Kita kembali ya? Biar aku yang ambilkan." "Nggak usah, aku ingin pulang." Aku sendiri yang pernah bilang, bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan kata terakhir menyentuh kenyatannya. Percaya bahwa akan selalu ada kata seterusnya dan esok-esok yang menawarkan kesempatan lain. Bodoh, untuk merasa lebih tahu padahal hanya dilebihi akal dan hati. Ribuan detik yang menjadi bisu setelah pembatas bab berikutnya sudah mendarat tepat di bukuku. Sudah waktunya kau hilang . Jika kata hilang dirasa terlalu kasar, mungkin boleh kuganti dengan menjadi jauh? Jauh yang menurut kita berbeda takaran. Cukup untukmu, tapi ternyata menjadi harapan temu bagiku. Kau adalah angan-angan yang kupertanyakan. Datang di saat bahkan aku tak pernah berusaha mencari jawabannya. Aku tidak pernah setakut ini menulis tentang manusia. Ketika semuanya menjadi serba-mu, tidak ada lagi tulisan yang terbaca. Aku memilih menyimpannya di dalam lemariku, di dalam catatan ponselku, di grup whatsapp ...