Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Bab Favoritku | #CeritaDariLagu - Satu Bintang di Langit Kelam

Gambar
#CeritaDariLagu  adalah salah satu segmen tulisan yang kubuat setelah atau saat mendengarkan sejumlah lagu favoritku. Bisa dibilang interpretasi singkat (mungkin juga ngaco) dari lagu-lagu tersebut melalui cerita-cerita yang berputar di hidupku, bisa ceritaku, ceritamu, cerita mereka, atau obrolan singkat yang tidak sengaja kulakukan dengan orang asing, yang kemudian membuatku melihat lebih dalam dan merangkainya menjadi bait-bait yang mungkin bisa kau baca di waktu senggangmu. Oh iya, tulisan-tulisan ini kebanyakan sudah kuramu sejak 2018 tapi baru sempat dipublikasikan dan dibuatkan segmen khusus. Barangkali kau menemukan ceritamu, lagu favoritmu, hanya iseng baca lalu beberapa bait ingin kau kirimkan pada salah satu manusia di hidupmu atau kau bagikan ke dunia yang lebih luas, maka aku akan sangat berterima kasih. Selamat membaca! Dua kata pertama adalah dirimu, kemudian aku harus menyikapi dengan tersadar bahwa aku hanyalah tiga kata terakhirnya. Lengkap dalam satu judul lagu f...

di depan perapian, tentang sebuah tarian yang tak kunjung selesai.

Gambar
#CeritaDariLagu  adalah salah satu segmen tulisan yang kubuat setelah atau saat mendengarkan sejumlah lagu favoritku. Bisa dibilang interpretasi singkat (mungkin juga ngaco) dari lagu-lagu tersebut melalui cerita-cerita yang berputar di hidupku, bisa ceritaku, ceritamu, cerita mereka, atau obrolan singkat yang tidak sengaja kulakukan dengan orang asing, yang kemudian membuatku melihat lebih dalam dan merangkainya menjadi bait-bait yang mungkin bisa kau baca di waktu senggangmu. Oh iya, tulisan-tulisan ini kebanyakan sudah kuramu sejak 2018 tapi baru sempat dipublikasikan dan dibuatkan segmen khusus. Barangkali kau menemukan ceritamu, lagu favoritmu, hanya iseng baca lalu beberapa bait ingin kau kirimkan pada salah satu manusia di hidupmu atau kau bagikan ke dunia yang lebih luas, maka aku akan sangat berterima kasih. Selamat membaca! Aku selalu suka menginterpretasi sesuatu, memandang dan menafsirkan suatu hal dari sudut pandangku, atau mungkin sudut pandangmu? Lalu ini adalah seke...

surat yang tidak akan pernah sampai pada pemiliknya.

Gambar
"Tidak ada yang hilang dari kita. Kau adalah cerita itu dan aku ada di sana bersama mimpi-mimpi yang pernah kau bangkitkan lagi." Lama kusangkal, kita tidak pernah punya janji apapun dan pernyataan-pernyataan lain yang membuatku tetap di sini. Kau selalu hadir dalam rupa sederhana yang tak pernah ada dalam catatan kriteria sempurna bagi manusia. Seperti yang kita tahu bagaimana sebuah kalimat bisa memiliki arti lebih jika yang mengucapkan adalah mereka yang berarti. Tidak ada yang istimewa dari cerita-cerita yang terjadi begitu saja ini. Aku tidak meminta saat itu, aku hanya meminta tenang dan penawar, lalu dihadiahkannya kehadiranmu dan mereka yang secara tiba-tiba berhasil memutar rotasi pengelihatanku lagi. Tidak ada yang istimewa kan? Tidak. Aku yang ingin berhenti merasa ini lama membiarkan kenyataan itu hidup di belakang, kutinggalkan bersama alasan untuk tetap bangun setiap harinya. Aku lupa, kau yang memberikannya.  "Lebih dari harapan-harapan soal kasih dan saya...

harusnya waktu itu aku menjawab iya.

"Kita kembali ya? Biar aku yang ambilkan." "Nggak usah, aku ingin pulang." Aku sendiri yang pernah bilang, bahwa kita tidak akan pernah tahu kapan kata terakhir menyentuh kenyatannya. Percaya bahwa akan selalu ada kata seterusnya dan esok-esok yang menawarkan kesempatan lain.  Bodoh, untuk merasa lebih tahu padahal hanya dilebihi akal dan hati.  Ribuan detik yang menjadi bisu setelah pembatas bab berikutnya sudah mendarat tepat di bukuku.  Sudah waktunya kau hilang .  Jika kata hilang dirasa terlalu kasar, mungkin boleh kuganti dengan menjadi jauh? Jauh yang menurut kita berbeda takaran. Cukup untukmu, tapi ternyata menjadi harapan temu bagiku. Kau adalah angan-angan yang kupertanyakan. Datang di saat bahkan aku tak pernah berusaha mencari jawabannya.  Aku tidak pernah setakut ini menulis tentang manusia. Ketika semuanya menjadi serba-mu, tidak ada lagi tulisan yang terbaca. Aku memilih menyimpannya di dalam lemariku, di dalam catatan ponselku, di grup whatsapp ...

tentang cerita dan subjek yang tak perlu kau pertanyakan;

Malam ini aku menulis lagi, di sini.  Tanpa paksaan,  tanpa permintaan  "buatlah kata-kata menyentuh" tanpa permintaan bantuan menulis kata-kata pengiring tanpa permintaan menulis tentang kenangan yang aku tak ikut merasa tanpa permintaan merangkai kata demi kata menjadi sesuatu yang lebih indah tanpa perasaan itu turut hadir bersamaku.  Tidak, aku sama sekali tidak keberatan.  Terbiasa kataku, luar biasa katamu.  Tapi malam ini berbeda,  ada sesuatu yang memaksa masuk lebih dalam ke pikiran dan perasaan. Takdir ini bukan kita yang menulis, pun bukan kita yang meminta Terjadi begitu saja, kataku Bagaimana bisa, katamu. -kalimat dalam bagian ini terpaksa dihapus-  dari hari pertama aku tahu kita tidak mungkin menyentuh kemungkinan terbaik. Kukira upaya mengingkari perasaan sendiri ini telah menyentuh kata berhasil. Namun sejenak terbesit ingatan akan kemungkinan pergimu akan selalu  beriringan dengan pertanyaan kesanggupanku melepaskanmu....

aku tak bisa menahannya cukup di kepalaku.

katamu, aku selalu bisa berpikir perihal kemungkinan-kemungkinan baik yang ditawarkan dunia katamu, ada ketenangan yang selalu berusaha kutitipkan lewat kalimat-kalimatku beberapanya kau percaya, beberapanya kau pertanyakan meski aku lebih sering membiarkannya diam di pikiranku katamu, aku selalu pandai merangkai takdir-takdir dari masa lalu untuk mencari keserasian pada kejadian yang mungkin tercipta katamu, aku selalu hebat soal menempatkan dan mengumpulkan orang-orang sesusai kata hatinya meski aku lebih sering membiarkannya diam di pikiranku katamu, tulisan-tulisanku ini harusnya sampai ke lebih banyak mata katamu, takutku itu harus kulawan secepatnya sebelum merenggut banyak imajinasi yang harusnya lahir dengan selamat sebagai karya dan aku masih sering membiarkannya diam di pikiranku berkutat, berdebat keras dengan pikiran sendiri damainya juga harus ditemukan sendiri lagi orang-orang batasnya hanya meringankan sisanya diri sendiri yang menyembuhkan dan aku masih membiarkannya di...

tulisan paling jujur.

ini adalah tulisan paling jujur, berwaktu-waktu menulis untuk yang lain bermasa-masa menahan yang dirasa berbagi adalah obat tapi lupa sembuhkan diri sendiri, ternyata bisa buat sekarat. patah dan ribut yang dipendam kepala sendiri, tidak mengizinkan yang lain menerka tidak mengizinkan yang lain tahu. tiba masa semua begitu runyam dan juga cuma masih bisa diam. kalau akal bisa diatur untuk memikirkan atau tidak, hati bisa diatur untuk merasakan atau tidak, dari dulu semuanya sudah selesai. permasalahannya adalah semuanya tidak bisa. tidak semua sakit terlihat dan tidak semua patah bersuara. biarkan tulisan ini hidup, setidaknya meski suatu saat logikaku mati. karena sejatinya hanya lewat tulisan-tulisan ini, semuanya bisa sampai di mata yang lain tanpa perlu saya meminta restu. ini tulisan paling jujur, silakan berasumsi, silakan mencipta spekulasi. tanpa permintaan untuk didengar tanpa permintaan untuk dihargai, tulisan ini bicara, tanpa perlu saksi. ia menyelamatkan, penulisnya sendi...

biar pembacanya menafsirkan sendiri.

malam ini semuanya masih harus kuselesaikan sendiri paham kau tak pernah benar-benar datang begitu pun tak pernah benar-benar pergi tapi sesuatu di antara, memang tidak pernah menenangkan.  bukan aku yang menciptakan bukan kau yang memberinya sesuatu di tengah, kita kehilangan kata selaras. angin tidak lagi memberi kabar baik belakangan kacau dan satu tenang tiba-tiba menjadi kalut telinga yang tak lagi saling mendengar dan mulut yang memilih bungkam ruang-ruang masih membicarakan kita cerita tak pernah hilang meski mereka menafsirkannya sendiri bukan permintaanku tapi hadir sebagaimana mestinya memangnya bisa mengelak? mati-matian melawan tidak ada yang tersampaikan  rupanya, belum sepenuhnya sembuh. 

Lejar

 Luber tumpah ruah segala hal yang pernah melintas di matamu Ia tersaji bersama dingin-dingin yang lupa kubereskan Seakan hari esok masih punya kemungkinan antara kita Padahal sejak kau berhenti mengeja, harusnya kutahu kisah kita sudah selesai. Perempuan itu terus mencoba menyambung kata Menata setiap titik dan koma agar setiap kalimatnya bisa sampai secara normal di telingamu. Menunggu waktu sedihmu, menanti tiba tangismu Masa-masa di mana ia dapat terlihat seutuhnya di matamu Masa-masa di mana ia dapat hadir seluruhnya di hadapmu Masa-masa di mana ia tahu, ia masuk dalam daftar pencarianmu. Sebelum akhirnya hilang dalam tawamu Lepas terlupa dalam lengkung senyummu Tersisih di antara dahaga atas ruang bahagia Benar bukan? Seperti itu caraku terlihat di matamu?

Ramu

Hujan di jumat terakhir Jalanan ramai tak mengisyaratkan apapun Panggilan yang kudengar jelas Harusnya saat itu aku menurut Tunduk pada intuisiku Melaju dibawa angin Lampu-lampu belum menyala Padahal sudah sore? Aku heran, kita pulang terlalu cepat atau malam datang terlalu lambat? -ditulis 17 September 2020