Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Jangan Mati Dulu

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Bait-bait ini ditujukan untuk, Untuk jiwa-jiwa yang baru saja kehilangan, Kita, siapapun, tak akan pernah siap dengan kehilangan Kita hanya mesti terus belajar menerima Terus belajar merelakan Terus belajar kembali menata lara Pada bait kesedihan paling bahagia Karena Pemilik Semesta Tak akan mengambil sesuatu  Tanpa menggantikannya dengan yang lebih baik Kita hanya perlu sedikit lebih banyak porsi sabar  dari biasanya. Untuk jiwa-jiwa yang sedang kalut, Kita, siapapun, pernah tidak baik-baik saja Sampai di titik terendah dalam hidupnya Ekspetasi dan kenyataan begitu berbeda Sementara hati masih sulit menerima dan yang kita ingin hanya mengulang semua bahagia Agar tak ada lagi tangis yang tersisa Tunggu sebentar, Pemilik Semesta selalu punya rencana terbaik untuk makhluknya Ketika semesta telah berkonspirasi dan berbicara Kita akan sadar ba...

Surat di Ruang Tunggu Terakhir

T idak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Halo, baru saja aku menemukan sepucuk surat di ruang itu Ya, di ruang tunggu terakhir. Begini isinya, ”Saya rasa, saya sudah tidak tahu dimana letak saya di hidupnya. Porsi di hatinya untuk saya masih ada atau tidak, saya tidak tahu. Dia seperti baik-baik saja tanpa saya. Mungkin saat ini, bersikap dingin atau memaki saya sudah tidak meninggalkan perasaan bersalah di hatinya. Jujur, saya nggak sanggup kalau harus menghilang atau kehilangan lagi. Saya selalu berharap ini yang terakhir kalinya saya jatuh cinta sedalam itu sama seseorang. Karena selama tujuh belas tahun saya ada di semesta, saya belum menemukan orang diluar lingkar keturunan yang bisa liat saya sebagai sesuatu yang berbeda. Saya belum pernah merasakan dilengkapi seperti ini. Saya belum pernah merasakan ada orang yang mau mendampingi saya melakukan hal-hal yang saya senangi tanpa berkomentar banyak. Saya b...

Ini tentang:

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Ini tentang: Ia yang mendengar, berpikir, merasa, dan mengingat lebih hebat dari biasanya. Menjadi pendengar, perasa, pemikir, dan pengingat dalam 1 raga sekaligus Tidak pernah mudah Kau akan mendengar dengan mudah Merasa lebih dalam Berpikir lebih keras dan mengingat lebih lama dari biasanya Kau akan melihat dunia lebih dalam dari apa yang ditatap oleh raga lainnya Kau akan menghargai sesuatu lebih tulus dari apa yang tampak di pelupuk mata Dan kau akan memaknai sesuatu lebih nyata dari apa yang dirasakan khalayak Perubahan sederhana akan lebih dulu terbesit di akalmu Hal-hal kecil akan menjadi apa yang terngiang begitu lama di lintas pikirmu Kau merasakan apa yang belum mereka rasakan Kau memikirkannya di hari sebelum 'tepat waktunya' Kau mengetahuinya dan kau mengingatnya Kau akan hafal detail-detail terkecil dari apa yang terlewati di setiap angka yang terpa...

Menikmati Jarak

Jika berkata perihal kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin ada, dan pikiran-pikiran tentang situasi paling menyakitkan yang ada tentu banyak. Tentu tak hanya cukup muncul sekali dua kali namun kerap berkali-kali. Lelah bukan? Iya. Lelah Mulai dari kekhawatiran ia akan bertemu dan menemukan sosok yang lebih dari aku Atau kekhawatiran kelak akan ada yang lebih membuatku nyaman di tempat baruku Tapi semuanya sederhana, Kembali padaku dan padanya Bagaimana kita mau bertahan dan tetap menjaga Ada hal berat yang sempat mengasah batinku Ya, permulaan tak pernah mudah Pun bertahan pada prosesnya juga bukan hal yang mudah Kita akan terus ditempa dan memiliki pilihan untuk lelah dan bertahan atau lelah dan menyerah Tapi hal terberatnya adalah apabila salah satu telah berhenti berupaya untuk bertahan Perjuangan sendirian tak pernah mudah Dan aku harap Kau tak akan membiarkanku berjuang sendirian lagi Seperti kala kau belum tiba di sisi

Menikmati Sakit

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Sepi memanggilku dari bilik ketakutan Mengeja satu persatu kekhawatiran yang telah lama membusuk di dada Berusaha ditepis akal dan diabaikan nurani Namun tetap tak mau berhenti hadir Lorong rasa yang menggelap Luruh bersama setiap detik yang terus melaju Seluruh sisinya retak Nyaris luluh lantak tak bersisa Jika rasa ingin bertahan itu lenyap usailah sudah semua. Menjadi pemikir, perasa, pengingat tidak pernah semudah itu Semua perasaan kalut itu yang mengantarkanku pada bait-bait sajak ini Mengantarkanku pada deret ketakutan yang munculnya tak pernah mau tahu keadaan Horizon malam ini menjelaskan begitu banyak sendu yang pernah turun dari pelupuk mata Menatap bintang dan bulan tak pernah membuatku seterluka itu Karena luka terkecil pun butuh waktu untuk sembuh Belum lagi lara menahun yang selalu meruntuhkan setiap sisi lorong-lorong yang ku kuatkan sendiri Masih banyak...

Kalah

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Bangku itu kosong dan basah Basah bersama rintik yang jatuh dari pelupuk mata Rapuh yang menguat kini telah lapuk Sulit untuk mengeja bahwa semua baik adanya Sebab nyata terpandang tak ada lagi tawa yang melukis cerita Upayaku untuk baik saja hanya angan yang sedang cemas akan dilupa Yang kutakutkan adalah ketika koma dalam setiap lamunan Memutuskan merubah wujudnya menjadi titik yang menjadi sebuah akhiran Dan seperti yang selalu ku ucap, kita tak akan pernah siap dengan kehilangan Aksara yang ku tegaskan dan suara yang ku lantangkan pun tak mampu membuatmu tersadarkan Bahwa masih juga aku yang mendambamu walau dari kejauhan Apa yang dulu hanya berbatas anak tangga, kini harus kurelakan menjadi semakin aksa Sebagai deskripsi singkat akan takut yang menjadi nyata Tentang bagaimana kelak siapapun akan melupa Waktu lebih cepat mengatur geraknya, dan nampaknya Aku m...

Sajak Dini Hari

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. 16/07/2017  01:07 Malam ini dingin. Aku tidak ingin bergelut dengan spekulasi apapun. Sepahit apapun nanti, hati tidak akan siap. Semua orang akan melupa pada waktunya. Kita hanya bersandar pada rasa takut akan kesendirian. Kala angin malam menusuk dan hujan membasahi, kita takut kehilangan rumah. Kita takut hilang dan kehilangan. 01:15 Tenggelam pada rasa cemas yang sama. Intuisiku berbicara sangat lantang, menyuarakan rindu, khawatir dan sejuta perasaan yang tak seharusnya muncul sedini ini. Keinginan untuk melipat jarak, memperlambat waktu, dan menggandakan raga agar tak lagi ada pahit yang ditebak-tebak. Aku hanya menerka, aku hanya merenung, dan aku hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. 01:43 Langkahku terhenti, senja yang menjemput tangis hari itu kembali membuatku mengingat bagaimana semuanya dimulai. Bagaimana semua pernah seindah dan semanis itu. Bagaimana aku tidak ingin l...

Hari ini, Esok dan seterusnya

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Selamat bulan Juli! Aku pernah meletakkan lara, tawa, dan memori pada hamparan angka yang mengurutkan satu hingga tiga puluh satu Ada sesuatu yang terdengar kosong bagi yang lain namun begitu berarti buatku Ada sesuatu yang akan selalu terekam jelas di mesin pengingat akalku Ada sesuatu yang tak lekang oleh waktu Selamat bulan tujuh! Adalah sebuah misteri yang hingga saat ini tidak bisa diterjemahkan oleh rumah rasaku Bagaimana setiap bulan itu tiba, ada serangkaian titik terang dari segala gelap yang pernah lalu Entah sugesti atau memang begitu adanya yang ku tahu Luka dan lara yang pernah menyelinap di lorong-lorong rasaku perlahan lenyap disingkirkan kisah yang baru dan, selalu seperti itu sejak empat tahun yang lalu. Namun, kala kaki harus beranjak dan dipaksa melangkah Katanya "Jangan hidup di masa lalu!" Tidak, aku hanya terlalu sayang pada ingatan-ingatan itu Inga...

Pernah?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Pernah kau alami? Jiwamu lelah Ragamu lelah Namun, Kau sudah tak sampai hati untuk meneteskan air mata. Lalu kau hanya bisa diam Mengeluarkan seluruh jiwa-jiwa gila yang tumbuh dalam dirimu Menciptakan hal-hal yang merisaukan Lalu berakhir, kosong.

Seimbang

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kala itu langkah kian melemah Jalan yang amat gelap Purnama bersembunyi dan bintang telah lama pergi Sedang mentari enggan sedetik pun tersenyum lagi Rintik hujan menyapa setiap hari Memanggil untuk terus larut di dalamnya Sebab hanya dalam hujan dan gelap Rintik sendu dari sepasang yang menatap Tak lagi nampak sebagai sebuah duka Ia menjelma menjadi rentetan keyakinan bahwa "Aku baik-baik saja" Sementara di dalam diri kita, banyak sepi yang ingin ditemani banyak luka yang ingin diobati banyak senyum yang diinginkan kembali dan banyak cerita yang inginkan sebuah peduli Manusia kadang seperti itu Pandai menyembunyikan dan acap kali lebih mudah percaya pada apa yang tidak dapat dilihat Namun jauh di relung terdalamnya Ada banyak ingin yang mendamba cahaya baru Percayalah, Kehilangan hanya satu proses yang akan mengantar pada gerbang baru Akan ada ya...

Rahasia

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Untuk engkau yang tidak pernah tahu, Kau berjalan Aku terdiam dan kau masih terus berjalan dan aku masih terus menatap Setiap langkah kakimu, tak lepas dari sorot mataku Duduk, Mencarimu hingga ke ujung dunia Kemana ? Kau memang tak pernah bicara Kemana langkahmu akan berujung dan Aku masih terus memperhatikanmu Tanpa suara Tanpa titik Meski nanti Semisal aku hilang Kau juga tidak akan mencariku Meski nanti Semisal aku berhenti memperhatikanmu Kau masih punya banyak mata untuk menatapmu Meski aku Hanya satu dari seribu, yang akan terus menunggu Tanpa kau tahu Bahkan nanti ketika kau telah termiliki Kau tak akan tahu perihal rasa ini Kau juga tak akan tahu bahwa saat itu, hatiku sudah patah di segala sisi Dan jika saja, Aku diberi kesempatan untuk merengkuhmu Walau sebatas pada pagi yang dingin dan di rentetan kalimat yang mengikrarkan kau sedang dalam sepi ...

Pesan dari Langit

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Ada yang ada Namun tak kau lihat Sebab semua lebih dari sekadar apa yang terlintas di retinamu Semuanya lebih dari sekadar apa yang bertemu di matamu Ada yang ada Dan kau lihat Namun tak seperti yang kau lihat Jauh lebih dalam, hidup punya caranya sendiri Untuk membuatmu kuat Ada yang kau lihat Namun tak kau rasa Sebatas pandang, yang kau biarkan hilang Lantas kau cari, ketika kau diselimuti sepi Ada yang tak kau lihat Namun kau rasa Mencipta asumsi, dan kau percaya lalu kau salahkan realita Kau mematung Menatap telapak, merasa kosong Padahal? ada banyak yang kau genggam Kau hanya, terlalu fokus pada apa yang tak sanggup kau sentuh. Memang kadang kita lupa Bahwa ada yang lebih tahu Tentang apa yang pantas disimpan dan Tentang apa yang mesti ditepikan Kita takut, tangan kita terlalu kecil Untuk memeluk semesta Padahal Dari terbit fajar, hingga sen...

Semesta Kita

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Semesta kita tidak hanya berotasi pada duniamu saja, sebab Ruangan ini luas, Setiap sisinya dihuni oleh manusia dengan isi kepala yang berbeda Dan juga dengan tingkat respon rasa yang tak sama Mereka yang merasa memiliki isi kepala dan respon rasa yang sama Akan berupaya menyihir ruangan itu menjadi dunianya Tanpa peduli rasa yang lain Tanpa peduli masih ada orang lain Semudah itu, Keinginan menjadi 'yang paling kuat' Menjadikan pandangannya akan semestanya seolah tertafisrkan sebagai 'yang mampu' dan 'yang harus tersingkir' Keinginannya terwujud secara tersirat Tanpa sadar, Tanpa tahu, Bahwa telah menepikan jiwa yang lain Dan, Mereka sibuk mempersiapkan menjadi yang 'paling' Hingga lupa makna 'saling' Memandang yang tak seiring sebagai orang asing Lantas menyalahkan dunia atas bising yang ia ciptakan sendiri Lantas, Indranya m...

Boleh dengarkan sejenak?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Tentang segala yang melintas di akal, berhasil diterka rasa, namun tak sampai hati untuk disuarakan pada khalayak dan semesta. Coba kau lihat purnama itu Purnama yang ku titipi seribu pesan tentang rindu dan haru Coba kau lihat lembayung itu Lembayung yang ku kisahkan perihal ragu dan apa yang telah lalu Mungkin boleh juga kau bertanya, tentang pahit yang ku pendam dalam waktu yang tersisa Mungkin boleh juga kau simpulkan, mengapa hanya padamu segala pendar rasa ini ku biaskan? Usai bait yang ku tuliskan Usai lara yang terbantahkan Usai sadar yang terdakwakan Usai kalut yang terabaikan Masih tetap kau yang terlintas di setiap angan,harapan dan hidup di pelataran bait-bait puisiku Aku menulis, bukan untuk kau tafsirkan Aku menulis, karena ada lelah berkepanjangan yang tidak mungkin ku suarakan pada kejamnya dunia Pernah kau dengar bukan? Bahwa sekian hari sebelum hati ter...

Sebelum Esok

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Akhir-akhir ini sering mendengar orang berujar, "Eh cepet ya" "Eh nggak kerasa" "Perasaan baru kemarin..." "Tau-tau udah...." Kalimat-kalimat itu terngiang, membekas di ranah pikiran. Menuntun saya pada bait-bait ini, Selamat menyambut awal minggu, Semoga kita tetap terus bersyukur ditengah hari-hari berat ini. Waktu tidak berhenti, masa terus berganti Perlahan hamparan angka itu tak lagi mengisyaratkan nanti Mereka terus menyuarakan 'saat ini' Ada hal-hal yang sedang diperjuangkan Ada hal-hal yang masih terus diharapkan dan ada hal-hal yang akan menjelma menjadi kenangan Sisa ruang rindu yang sempit Untuk rasa yang teramat luas dan untuk kisah yang terlalu kalut untuk diakhiri Sedang ribut Yang satu mempermasalahkan jarak Yang satu mempermasalahkan ingin Yang satu mempermasalahkan takut dan disini, ...

Eksistensialisme?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Paragraf-paragraf ini ditulis untuk mengeja rasa yang tidak sempat diutarakan akibat mulut yang dipaksa terkunci dalam ruangan yang sesak akan ambisi. Beberapa manusia cenderung memilih diam, memilih pura-pura tidak tahu, memilih tidak berbicara Padahal sebenarnya kita semua sama-sama memiliki kemerdekaan untuk berbicara bukan? Iya, namun sayang. Beberapa manusia memilih mengatasnamakan ego mereka atas upaya mematikan suara lainnya. Hingga semua orang yang awalnya berani justru menjadi malas atau bahkan takut menyalurkan aspirasinya. Mereka dipaksa menjadi bungkam Menjadi bisu dan mematung dalam keinginan manusia lain untuk menjadi pemenang. Kesenjangan yang hadir di banyak lingkup Bahkan pada hal paling sederhana pun Perlahan manusia mulai menciptakan kastanya masing-masing Yang satu Sibuk mengkotak-kotak-kan manusia Yang satu Sibuk berlari ke garis fini...

Ambang

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. "Sajak sederhana dengan judul yang dipilih oleh orang terpilih dan ditulis dengan sepaket rasa. Terselip patah hati, berpindah hati, rindu yang menyelimuti dan bait-bait pengharapan lainnya. Cobalah singgah, siapa tau disini hatimu menemukan arah." QWERTY ”Menganalogikan 6 huruf yang mengawali 25 susunan resmi alphabet pada setiap papan ketik.” Ia menuliskan, kata-kata dan kalimat yang tak sempat diucapkan sang awan pada matahari Sebab rintik hujan terlalu cepat datang Ia menuliskan, rangkaian aksara yang memudar bersama embun pagi yang lenyap dalam kehangatan Ia menuliskan sajak-sajak ajaib yang mengikutsertakan seperangkat hatinya dalam lembaran kertas itu Tidak ada banyak hal yang istimewa dari tulisan-tulisannya itu, tidak ada Hanya ada satu hal yang terdengar hiperbola namun begitu adanya Sebab tulisan-tulisan itu tak pernah ia tuliskan untuk orang lain, ...

Raison d'être

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kau? Kalian? Kalian kenal wanita itu? Kalian lihat gerak bibirnya? Sayup matanya? Rentetan senyum yang membuka bibirnya Kau? Kalian? Atau sebutan lain untuk menyapa segerombolan manusia Sapaan yang tak penting Kalian dengar hembus napasnya? Kalian dengar rintihan pedihnya? Kawan, Hati tak pernah bersuara saat patah Ia hanya menyulap pilu menjadi air mata yang ramah Untuk menutup paksa katup resah Ini isyarat, Mungkin dari perempuan yang harapannya tersudut di ujung jalan Lelakinya pergi meninggalkan Dan rupanya selama ini ia hanya enggan kesepian Mungkin juga dari laki-laki yang kasihnya pupus di persimpangan Rindunya usang dalam lamunan Dan rupanya ia hanya memendam rasa sendirian Mungkin juga dari perempuan yang kecewanya tak terbendung Masa lalu yang hilang membawa mendung Menusuk tajam hingga membekaskan luka di palung Mungkin juga dari manusia berhati lembut Yang kasi...

Hepatomegali

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Hai. Apa kau mendengar suara itu? Suara yang hanya ku perdengarkan untukmu Suara yang hanya mampu di dengar oleh hatimu Bait-bait permohonan yang tak terucap lewat lidahku Hai Apa kau menyadari lamunan itu? Kala mata menatap dan hati terpaku Kala langkah tersendat dan aku membeku Kala rindu menggebu dan rasa merayu Kian lama kian menyakitkan Menahan pedih sendiri dalam lamunan Menerkam hati sendiri dalam setiap keraguan Memupuk peluh dalam setiap ketakutan Dan dalam raga yang selalu kau sembunyikan Rasa yang mengakar hingga ke palung hati Katamu kau tak mungkin biarkan aku sendiri? Mati dalam rasa yang kau beri Diam dalam cemas yang berapi Tolong, jangan biarkan hatiku mati. Lagi.