Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Manifestasi Batin

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. "Adalah serangkaian sajak yang telah ditulis sekian masa sebelum hari ini, mungkin tak merupa kisah namun mungkin ia dapat membawa rasamu kembali menemukan arah. " Rindu "Bicara rindu, Sampai saat ini yang ku mengerti rindu tidak memiliki definisi yang mutlak Yang ku tahu, Ia bisa datang tiba-tiba Namun perginya tak bisa begitu saja Mungkin kala rintik sendu itu menyapa tanah pijakan kita berdiri Mungkin juga kala lembayung itu mengiring sang surya pergi Atau bahkan kala kau sedang tenggelam dalam lamunan sendiri Setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam mendefinisikan rindu Seperti rinduku yang menggebu di sabtu ini dan sedang menamba sebuah temu, denganmu." Aksa "Termin, Ia tidak berhenti Mengatur geraknya dengan cerdas hingga aku nyaris tereleminasi Gugur, Dari rangkaian yang terbuang Hancur, Dari sepaket rasa yang telah usang Melebur, Bers...

Berdiri lagi?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. "Rangkaian sajak ini mungkin tak membentuk sebuah alur cerita. Namun ketahuilah bahwa setiap aksaranya, mewakili sebuah rasa." Nanti akan ada Kata mereka, “Nanti akan ada orang yang mau memotretmu seperti kamu menangkap gerak geriknya lewat lensa dan rasamu dalam segala deretan linimasa itu” “Nanti akan ada orang yang mau menulis lagu untukmu seperti kamu membuatkannya alunan nada dengan syair yang menyuarakan perasaanmu” “Nanti akan ada orang yang khawatir padamu seperti kamu yang tidak bisa berhenti peduli kepadanya” “Nanti akan ada orang yang mau menjadikan kamu prioritas dan opsi teratas seperti kamu mendedikasikan segala rasamu untuknya kala itu” “Nanti akan ada orang yang mau menjadikan kamu rumah tempat segala rasa dan seperangkat hatinya berpulang tanpa kau minta seperti kamu yang tidak pernah bisa berhenti untuk memulangkan hatimu pada jiwanya” Nanti akan ada, ta...

Bifurkasi

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. "Adalah serangkaian sajak singkat tentang titik bifurkasi atau masa peralihan setelah lelah yang berkepanjangan yang telah saya tulis beberapa hari, minggu, bulan sebelum hari ini yang mungkin bisa membantumu mengisyaratkan rasa yang tak pernah ia terka." Hai, orang asing. Kau tetap ku jadikan tempat berpulang, hidup di celah antara berhenti dan tidak bisa pergi. Kau memberiku terlalu banyak jeda tanpa mau merekatkannya lagi. Kita sudah layak disebut orang asing yang tidak pernah saling bertanya keadaan masing-masing dan memilih tenggelam dalam halusinasi.   Untukmu yang tidak pernah merasa cukup Kamu akan menemukan banyak perempuan yang lebih suka berdandan dan menata rupanya. Kamu akan menemukan perempuan yang tutur kata dan gerak-geriknya lebih menenangkan . Kamu akan menemukan perempuan yang setiap hari pakaiannya tidak pernah sama dan punya sejuta cara berpenampilan baik...

Catatan Akhir Tahun

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Merujuk pada hari-hari di akhir tahun yang akan menutup serangkaian kisah yang mewakili perasaan sayang, sakit, lelah, letih, sendu, rindu, tenang, gelisah, kesal, cemas, amarah, duka, hampa dan bahagia selama kurang lebih tiga ratus(an) hari kebelakang.  Pada hakikatnya, segala hal terjadi karena suatu alasan Pun ketika itu begitu menyakitkan  Atau sebegitu membahagiakan Semuanya sama, dibiarkan menimpa atas sebuah alasan Entah itu merupa pelajaran Ataupun menguntai kenangan Sedih dan bahagia itu satu paket Sebab itu akan selalu ada tanda tanya usai tawa yang panjang "Berapa banyak sedih yang harus ku bayar untuk bahagia yang seperti ini?" Entah aku yang terlalu penakut Entah aku yang terlalu pemikir Entah aku yang serba terlalu dalam memfungsikan hati Hingga terasa berat menatap lingkup yang sesak dengan ego manusia  Aku masih jadi sosok yang sa...

Terima Kasih

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Tulisan ini akan dimulai dengan, Terimakasih. Untuk siapapun, atas apapun, yang terjadi kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun. Sederhana memang Hanya sebatas kesebelasan huruf yang berpadu untuk mendeklarasikan sebuah makna Representasi dari kesederhanaan yang tidak sederhana Pernahkah kita coba melihat lebih dalam? Bahwa sesingkat dan sepanjang apapun kalimat yang terlantun, tertulis dan terdengar Semua itu kembali pada tingkat berharganya sang pengucap, sang penulis dan sang pendengar Kadang kita lupa, Satu saja kata, satu kalimat, satu tanda baca dapat merubah berbagai sudut pandang Semuanya kembali pada 'tentang siapa' serta 'dari siapa' Kadang kita lupa, Satu dan keseluruhan dari kita adalah tipikal makhluk yang ditakdirkan tidak dapat hidup sendirian Meskipun lebih-lebih kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri Diluar segala kemutlakan atau pe...

Atribusi

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kadang kita berpikir Tentang salah dan benar Tentang gelap dan binar Entah kau bersalah atau rasa terlewat dalam Entah kau  salah atau aku terlalu sering diam Entah aku terlalu terbuka hingga kau lupa cara memperlakukan aku sebagai manusia Entah aku terlalu pandai sembunyikan hingga kau lupa bahwa aku juga bisa tidak baik-baik saja Mungkin ini Siapa Mungkin aku Mungkin kami Mungkin kamu Mungkin kalian atau mungkin juga kita? Kalimat-kalimat ini terlalu rahasia Kau tidak paham sandinya Tunggal tidak bersama Jamak belum tentu juga bersama Dahan lupa akar Merpati kehilangan sayap Petualang lupa berpulang Sejatinya semua adalah baik, jika memang tertuntut pun apa perlu menjadi tidak baik? Manusia diciptakan berbeda, kan? Iya, punya akal Satu lagi Juga punya rasa kan? Jika berawal dari tempat yang sama dan berakhir di tempat yang sama Mengapa kian sulit unt...

Anestesi

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. 11:25 "Menganalogikan segala upaya memblokade rasa untuk sejenak membiarkan hati kembali seperti sedia kala, dalam upaya merelakan dan usaha kembali menemukan." Sudut-sudut jalanan yang ku lewati seperti menyuarakan sebuah isyarat Memanggil aku yang masih terus membimbangkan diri dengan segala spekulasi yang tercipta secara tersirat Rasa ini memang tak bersyarat Asal kau ada Asal kau selalu ada Asal kau tak sengaja membuatku tiada Asal bagimu aku bukan antara ada dan tiada Asal bagimu rasa itu memang ada Apa perlu ku ingatkan? Aku tidak akan menjadi sosok yang lebih dulu meninggalkan Bahkan meski berulang kali kau tepikan Kau ku dambakan Ku kau diamkan Kau ku perhatikan Ku kau acuhkan Kau ku simpan dalam ingatan Ku kau buang di ujung persimpangan Kau ku ikhlaskan Ku kau hilangkan Ter-distorsi Rasa yang tak kau apresiasi Rindu yang tak kau interpret...

Residu

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Desember,2016 R esidu Jika kamu melihatku sebagai sebuah titik yang tak berguna, tak penting dan hanya merupakan opsi kesekian. Maka bagiku tidak, aku melihatmu lebih dari caranya melihatmu. Aku melihatmu dengan merangkul segala memorimu. Dengan memeluk erat setiap emosimu, dan dengan mendekap setiap sakitmu. Berusaha mengalihkannya walau aku tak mampu menyentuh batinmu. Walau di relungmu yang ada adalah sosok lain. Melakukan apapun atas nama sebuah usaha membuat kamu bahagia. Meskipun acap kali kamu tak melihatnya, acap kali aku hanya kau lihat sebagai angin yang sekedar berlalu. Ya dan aku tau kamu tak akan pernah bisa melihat wujud angin. Sementara yang ku inginkan adalah menjadi matahari, menyinari dan menaungi. Membawa sinar yang ku harap mampu hapus resahmu, buang egomu, dan hilangkan pedihmu. Membuatmu yakin bahwa pada setiap detikmu, akan selalu ada orang yang peduli padamu. Menaruh ba...

Translasi

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Di penghujung masa merantai kisah yang dalam setiap paragrafnya terselip kenangan Ada bait-bait dan larik-larik sajak yang belum sempat ku tuliskan Mungkin juga kalimat-kalimat penanda rindu dalam pesan singkat yang sempat terhapus setelah ku ketikkan Mungkin juga serangkaian potret dalam linimasa yang sengaja ku simpan sendiri untuk kelak kembali diam-diam ku perhatikan Atau mungkin serentetan lantunan nada yang belum sempat ku tamatkan Jiwa yang telah sekian lama terlelap dalam zona nyaman Yang pernah enggan kembali bangkit dan berkutat pada ribuan tanya tanpa kepastian Terlalu lama menyelam dalam samudra lukamu rupanya nyaris membuatku lupa Bahwa masih ada kerumunan kasih yang tak lekang termakan masa yang binasa Tak perlu kau tanyakan pada embun pagi yang bergumam di celah antara hilangnya bulan dan terbitnya fajar Tak perlu kau tanyakan pada terik matahari pukul 12 siang yang acap...

S i n g g a h

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Di celah antara semu dan tabu Disitulah aku menitip rindu Di rongga antara pahit dan sakit Disitulah rasa ini menjerit Aku hanyalah satu opsi diantara jiwa penuh ambisi Yang bisa gugur tanpa perlu diseleksi Tempat berteduh bagi jiwa yang rapuh Tempat singgah bagi batin yang lelah dan tempat istirahat bagi hati yang sekarat Tak satupun hendak menetap Hanya lalu dan meninggalkan ratap Tidak apa apa Rumahku pun telah terbiasa Bukan tuk alasan berpulang Namun ruang transit usai tualang panjang Bagi jiwa yang datang dan pergi secara berulang Tidak apa apa Rasa ini telah abadi dalam sebuah luka Tentang ikatan antara janji dan dusta Yang hanya akan terbalas dengan implementasi rasa dalam aksara dan tentang kisah sosok pengganti pemeran utama yang abadi dalam posisi maya

Usaha Meniadakanmu

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Menyeka air yang mengalir dari matanya Seraya tersadar bahwa sekian lama yang terukir adalah sebuah kehilangan Sebab, Siapapun kamu Tak akan pernah siap dengan kehilangan Sebab, Sekuat apapun kamu Kehilangan adalah hal yang menyakitkan Lebih menyayat dari semua pedih yang tergambar melalui tulisan-tulisanmu. Inginmu menguatkan, Namun keinginanmu, tak lebih hebat dari pandangannya terhadapmu. Kamu lah yang tergantikan. Seberapa lamapun saling mengenal, Memang tak berarti tanpa ada yang mau mengerti. Salah satu variabel sudah lelah menjadi peduli. Bukan memaksa untuk peduli, Namun itulah hatinya. Memang tak pernah mau berhenti, meski jagat raya pun sudah tau ia tersakiti. Jika khalayak berpikir ini adalah sebuah pemaksaan, atau mungkin sikap kurang menerima atas sebuah keadaan. Mungkin pengetahuanmu kurang, Ia tak sedang dalam bentuk sikap berontaknya. Coba lihat dia lagi? Ia dia...

Lukisan baru?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kamu, Telah berpindah tempat sekian lama sebelum aku hendak melakukannya Sementara aku tak pernah berhasil melakukannya sedikitpun Jangankan untuk berlari melupakan, untuk sedikit memulai langkah kecil saja aku tidak mampu Kamu, Telah menggenggam tangan yang lain disaat aku masih bersusah payah menggapaimu Aneh memang, Terdengar berlebihan namun memang nyatanya intuisiku selalu tertuju ke arahmu Seberapa jauh aku berlari Aku selalu tahu bahwa kamu adalah rumah tempat hati dan segala rasa berpulang Sekarang? Bolehkah aku memulai giliranku? Giliranku untuk mencoba benar-benar membuka hati untuk orang baru Walaupun sejujurnya hati masih diselubungi sakit dan ragu akan terjadinya patahan-patahan berikutnya Karena takut terjatuh untuk kedua kalinya Namun, Setidaknya saat melihatmu bersamanya pisau yang menikam hatiku tidak setajam biasanya Setidaknya saat tahu kamu resmi buta dan tuli un...

Mati Rasa

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Sudah? Ia sudah menahan Ia sudah menghentikan Ia sudah memperingatkan Namun, Memang benar yang terdengar Kabar tak lagi diinginkan namun masih dibutuhkan untuknya Nampaknya memang tidak pernah berujung Sekarang, Kamu tidak akan pernah melihat hujan dan langit berdamai Kamu tidak akan pernah melihat awan dan angin bertegur sapa Kamu tidak akan pernah melihat bulan dan bintang berbahagia Kamu hanya akan melihat petir Menyaksikan tawa yang terurai menjadi air mata Melihat duka memeluk kenyataan Mendengar alunan sendu yang menyuarakan pahit sebuah kisah Ia merunduk Enggan memandang sekitar Karena kini yang mampu ia lihat hanya sebuah mendung Satu pigura lukisan pekat dengan langit hitamnya Ia tak lagi melihat pelangi Hati dan logikanya tengah bertarung Rasa acuh dan pedulinya sedang berebut untuk saling menyingkirkan Kasih dan kesalnya masih tercampur menunggu siapa yang aka...

Bukan Isyarat

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kembalilah, Kembalilah kapanpun engkau membutuhkan jalan pulang. Kembalilah, Kembalilah kapanpun engkau butuh bahu untuk bersandar Pulanglah, Pulanglah pada hati yang menunggumu datang lagi Pulanglah, Pulanglah pada jiwa yang merindumu lagi dan lagi Sesak, Sebuah rasa yang tidak dapat ku definisikan ke dalam kosa kata yang berarti Kamu perlu tau, Bahwa terkadang aksara lebih lihai mengutarakan rasa Isyarat, Aku tak biasa meneriakkan pedih dalam upaya nyata Namun aku tak biasa pula menyebutnya sebagai pengibaratan lain agar kamu mengerti Terkadang aku menulis bukan karena ingin kamu pahami Namun aku menulis karena aku ingin lepas Melepas belenggu rindu melalui alphabet-alphabet Yang bahkan mungkin hingga saat ini tak pernah kamu sentuh lewat layar ponsel pintarmu Tidak apa, Jika memang kamu tak mampu membaca rasaku. Cukuplah dengan mengintip tulisanku. Tak apa juga, Jika...

Seribu Satu Cerita di Tanah Istimewa

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Jogja, Katanya akan selalu menjadi rumah yang ramah Benar, Aku suka Jogja, senja, hujan, dan kamu. Namun, Kembaliku ke Jogja Nyatanya justru membawa luka Mengasah lara di pelataran bahagiamu Genggaman tanganmu begitu erat Merengkuhnya, menjaganya Dan aku diam dibawah senja Menjaga hati dan rasa agar enggan memberontak Jogja, Harusnya indah. Denganmu, harusnya lebih indah Namun, Kala itu tidak Hanya memaksaku menggerus memori indah tentang Jogja dan kamu Yang ternyata memang tidak akan pernah kembali menjadi sejarahku lagi Lintas rindu Tersapu sendu Bangunan bersejarah Telah kembali memberiku sejarah Tentang rasa yang kehilangan arah Tenggelamnya fajar pun tak nampak Mungkin ia hilang Bersama ekspetasiku tentang sebuah gempita di tanah istimewa Semua hanya sebatas angan serta imaji Karena yang jelas terlintas di indraku adalah, Jogja memberimu seribu cerita bersam...

Konotasi Pelarian

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Masih pada pijakan yang sama Akan melangkah? Ya, ia tak lagi mau diam di tempat Tenang, Jangan takut, ia tak akan pergi untuk melupa Ia hanya tidak mau berkutat pada hitam yang sama, pekat yang sama Setidaknya beri ia kesempatan untuk melukis di kanvas baru. Menjadi yang paling mengingat dalam setiap peristiwa di segala rotasi waktu, tidak pernah mudah Kemudian menjadi yang paling cepat terlupa dan tersingkir kembali hingga tak nampak Warnanya menyala, mimpinya hidup, namun beberapa rasa hadir untuk sengaja meredupkannya Kamu, melihatnya sebagai hitam Tak perlu melintas di retina Tak perlu terbaca indra penglihatmu Cukup ada, cukup hadir, untuk dunia Bukan untukmu Dia, melihatnya sebagai abu Melintas di retina, nampak dan terbaca jelas Tak mengambang menjadi alur yang tak pasti Diberi bahagia, diberi lara Diajak melupa, namun akhirnya ditinggal terluka Ia hidup hanya ketika ...

Entah Hingga Kapan

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Angin begitu berani menerpa wajah-wajah yang haus akan ucapan rindu dari yang terkasih Dingin, menelusup hingga ke rusuk-rusukku Datang bersama awan kelabu yang sudah siap menjadi tanda penyambut rintik rahmat dari Yang Kuasa Menyisihkan mentari yang dirasa sudah cukup lama menetap dan memberi hangat Kini gilirannya. Dan saat ia datang, aku seolah dipaksa mengulang dan kembali mengulang apa yang terekam nyata di memori otakku Terpampang nyata di sudut-sudut ruangan yang menjadi saksi bisu semua kisah kita Tidak, Aku rasa aku tidak berlebihan dengan tulisan ini Bukankah setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menuangkan setiap perasaannya? Jika aku rasa menulis adalah cara yang paling tepat bagi makhluk yang masih diam-diam menyimpan rasa untuk menerjemahkan emosi dan rindunya Tanpa mengusikmu, Tanpa mengganggumu, Tanpa sedikitpun membuat waktumu terbuang Tidak, Aku sama seka...