Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Hanya sebatas rasa

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Senja hari ini, hendak menyampaikan salam dari seseorang yang sedang jatuh cinta pada si pemilik hatinya. Begini tuturnya, "Selamat sore, Teruntuk pelabuhan lama yang telah aku tinggalkan, untuk pelabuhan baru yang kelak ku singgahi atau pelabuhan terakhirku yang masih belum sanggup ku tepikan. Kamu boleh membenciku dengan aku dan perasaanku. Tapi kamu tidak berhak membenci dan mengekangku atas aku dan karyaku. Yang kuberi hanya sekadar rasa yang ku utarakan lewat setiap sajak, seni dan apapun yang ku percaya membuatku tenang dan bahagia tanpa merisaukanmu. Tanpa mengganggu kehidupanmu. Dan tanpa mengusikmu dan orang orang terdekatmu. Sekarang aku tengah diam, aku tidak pernah lagi berkutik terlalu jauh terkait kehidupanmu. Sekarang kamu dan hidupmu adalah urusanmu. Biarlah, ini semua hanya sebatas rasa. Sementara tidak ada yang salah dan bisa disalahkan soal sebuah rasa. Sebagaima...

Jatuh

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kamu tanya ia dimana? Ia berhenti di sebuah persimpangan Ia menghentikan langkah nya Memadamkan amarahnya Menepiskan sudah segala harapnya Namun dalam posisi diamnya Ia tetap dibiarkan terdorong Hingga jatuh tersungkur ke sebuah lubang sakit hati di persimpangan itu Tak bereaksi Tak mengelak Tak memberontak Diam Hanya itu yang ia lakukan Namun apakah dalam diamnya saja ia tetap tak diberikan sisi untuk berdiri kokoh dalam pendirian dan keyakinannya sendiri? Ia pun manusia, sama sepertimu Jika disakiti hatinya patah Jika dilukai bertambah sudah goresannya Jika dikhianati rusak sudah kepercayannya Lantas mengapa dalam posisi mempercepat gaya, diam, dan memperlambat gaya pun ia tetap satu satunya yang kamu anggap maya dan tak pernah kamu anggap berarti "Terimakasih lagi atas lukanya." begitu pesannya. Semoga kelak ia kan tetap bahagia walau masih dalam sudut sepi berh...

Tenggelam lagi?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku, Ya, manusia itu kembali terhempas Tunggu, bukan. Bukan lagi terhempas Ia tenggelam lagi Bersama ombak ombak yang masih terus menari dibawah saksi bulan purnama Ia terjatuh lagi Terbuang dari sisi sisi keberadaannya, tersingkir jadi puing puing asa yang masih penuh harap Rupanya masih sama Keadaannya yang menolak kenyataan pahit atau bahkan telah menerima masih tetap menyiksa batinnya. Perbuatan nya memberontak dan diam pun masih saja terdakwakan Lucu memang Sosok itu kembali hadir di memori Menyapa ingatan menyakitkan tentang masa yang telah berbeda Tentang hentakan dan pukulan batin yang membuatnya berubah Ah ia sedih lagi, tersungkur dalam sepi Teringat kembali tentang segala benang benang ingatan manis tentang kasih dan harapan Bukan tentang kejam, siksa, dan khianat Tenggelam lagi? Sudah pasti Sekarang entah yang menolong masih akan mau datang atau sudah berlayar pergi membawa...

Akhir ceritakah?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Merangkak pergi atau terdiam di satu jalur? Apalagi yang bisa dilakukan oleh seonggok manusia sepertinya. Ketika pedulinya sudah diberi Ikrarnya telah ditepati Namun harapannya justru selalu pergi Tidak ada yang salah dengan harapan Tidak ada yang salah pula dengan sebuah perasaan yang kondang dengan nama cinta Pada dasarnya, setiap orang yang mencintai pasti memiliki harapan. Entah harapan untuk memiliki, harapan agar bisa terus menyayangi, atau harapan agar mampu berhenti atas perasaannya sendiri. Tidak lagi soal kehendak diri, namun kebahagiaan kedua sisi adalah harapannya. Karena pada dasarnya pula kamu mulai menyayangi seseorang ketika kamu telah memberikan kesempatan padanya untuk menyakitimu. Jadi sekarang, entah memang sudah habis masanya atau memang sudah ikhlas dirinya. Ia akan membiarkanmu pergi, dan bahagia. Tak perlu bersembunyi lagi, karena ia mungkin juga akan berhenti m...

Disini atau pergi?

06/04/2016 23:17 Ah sial. Aku merindumu lagi. Memori itu menyapa (lagi), menyapaku dengan tenang. Seolah ingin berbincang sejenak  tentang mu dan aku dalam sirat waktu lampau. Benang benang ingatan seolah semakin memaksa reaksi atas setiap perasaan yang meletup setiap kali masa itu hadir. Tertatih, letih, pedih, masih sedih. Kamu curang, melakukan percepatan gaya. Hingga kamu sampai di finish lebih dulu, tak bersamaku pula. Dan kini, aku terhenti di titik tengah sirkuit. Miris. Mengharapmu memutar kembali arahmu saat kamu sudah dapat medali di ujung jalanmu. Menikmati bahagia bersama raga lain. Walau ku tau beberapa bagian dari jiwamu masih tersangkut di aliran aliran perasaanku.

Masih sama, atau mungkin semakin dalam.

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Masih sama? Ya benar masih sama sakitnya. Seperti tenggelam tetapi tidak ada yang menyadarinya Semua sudah sibuk dengan kapalnya masing masing, entah yang ingin cepat sampai pelabuhan atau yang ingin segera berangkat meninggalkan puing-puing rindu tak bertepi di pesisir pantai. Karena pada dasarnya setiap kali rapuh, direnovasi secanggih apapun tetap masih membekas. Tidak bisa seperti awal lagi, kalaupun kembali mungkin ia kembali dengan sisa sisa kenangan pahit yang masih akan terus (mau tidak mau) diingat. Semakin dalam? Bukan sebuah tidak mungkin Kalau ia terus dibiarkan tenggelam, lama lama permintaannya akan habis Yang tersisa hanya penyesalan terdalam didasar sana Seperti sebuah mesin, kalau saja satu bagiannya hilang mungkin kepergiannya tidak disadari secepat kilat Namun ketika sudah waktunya bagian itu bekerja, barulah semua sadar bahwa ia telah hilang Karena memang pada dasarny...

Tenggelam lagi-

T idak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. 01/04/2016 20:09 Maaf jika tulisanku tetap untukmu. Maaf jika sajak sajakku tetap menetapkanmu sebagai pelabuhan terakhirnya. Maafkan jika kamu ku sayangi. Namun sesungguhnya kamu pun semestinya mengerti bahwa melupakanmu tak pernah semudah ku melepaskan hatiku untuk kau patahkan. Ya semestinya, tapi nyatanya pun kamu tak pernah mau mengerti. 02/04/2016 05:15 Merindu. Pekerjaan mulia manusia yang terus menerus menyimpan rasa untukmu ini. Manusia yang selalu ingin melindungi dan menjagamu. Walau dianggap sudah hilang akal oleh sekitar, ia tak bisa berhenti karena bahwasannya perasaannya selalu menang atas segala fikir dalam akalnya. Ia terlalu kuat. Namun sekarang ia telah menjadi kepingan yang entah akan bersatu saat bertemu siapa. 17:14 Hubungan kita sudah terlalu jauh. Ya. Kamu membuangku terlalu jauh dan aku telah mempertahankanmu begitu jauh.

Bukan penulis yang baik.

T idak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. 29/12/2015 23:17 Bicara soal kenangan. Semua hal memang dekat dengan kenangan. Karena apa yang telah terjadi memang akan berlalu, dan akan menjadi kenangan. Namun, kamu tau? Satu hal yang tidak aku pahami soal kenangan. Ia selalu berhasil membawaku mengulang semuanya termasuk membawa hati ini pulang padamu. 23:59 Berpura pura tidak mencintai itu sulit. Kamu harus tau. Dan kamu tau alasan dari semua itu adalah, karena aku takut perasaanku ini menjauhkan kita. Membuat jarak diantara kita semakin luas. Memperlebar ruang kebencian yang perlahan berdiri karena perasaanku sendiri. Maafkan perasaan ini. Maafkan temanmu ini. Sungguh berat menulis kata teman diantara kita sementara yang kurasakan adalah cinta. Bukan sekedar teman. 26/01/2016 18:07 Aku tidak tau tindakanmu yang mana lagi yang membuatku begitu tabah mempertahankan rasa ini. Yang kutau semua yang pernah kau ber...