Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Tidak Pergi

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Tunggu. Ia memang bersembunyi dibalik segala tirai-tirai kebahagiaan. Sosok penggerak dibalik layar. Membiarkan yang tampak seolah lebih indah. Namun satu yang tak mau ia biarkan untuk terakhir kalinya, ia tidak mau kamu menyesal. Entah kamu akan menyesal atau tidak tentang bagaimana kamu terlambat mengetahui suatu hal yang membawa larut banyak perasaan begitu dalam. Kamu tidak pernah sadar karena yang kamu lakukan adalah terus berlari tanpa mau pernah menengok sedikit ke belakang. Dan ketika, kamu sudah lelah berlari, berharap perjalanan seolah berhenti sebentar Kamu menoleh ke belakangmu. Dan kamu melihatnya, Kamu melihat kehadirannya. Nampak nyata namun terasa maya. Apa kamu melihatnya? Mendengar suara patahan patahan hatinya yang tak pernah mau tau kondisi Merasakan kehadirannya Ia tenggelam dalam kepeduliannya dan ketakutannya sendiri Rasa takut itu benar-benar membunuhnya ...

Koma

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Aku berhenti Sejenak. Menghentikan perasaanku Tidak mau memilih tempat berlabuh dulu Ku biarkan kapalku berlayar tenang menyusuri lautan yang ku tau tak selamanya tenang Sebab Ada banyak rasa sakit yang bersembunyi dibalik tawa dan ada banyak resah yang bersembunyi dibalik candaan Keyakinanku pudar Harapanku terkikis dan inginku sudah melapuk menjadi butir butir yang tak berarti Mungkin lelah Aku ingin berhenti menyakiti diri sendiri seperti kata pujaanmu itu Walaupun aku sendiri tau menghentikan apa yang sudah terbiasa mengalir itu sama seperti menyumbat dalam dalam hak ku untuk berharap dan bermimpi Tak seharusnya ia katakan dan tak seharusnya pula aku lakukan Namun aku takut Aku khawatir apa yang ku redam ini akan semakin menyala dan bertumbuh tanpa mau paham situasi dan kondisi Kini aku sudah tak ingin mengajukan sebuah pertanyaan Aku membenci sebuah tanda tanya Tanda tanya y...

Iya, dengan siapa?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Ketika langit memiliki sejuta cara tuk menerjemahkan segala rasa. Namun angan dan harap tak mudah pupus walau sadar mimpi-mimpi itu hanyalah sisa renungan yang kelabu. Setiap rasa dan sakit yang bergejolak dalam raut emosi Dalam relung-relung yang merindu akan hadirnya sebuah rasa abadi tanpa peluh dan pedih Bahwa yang kutau membencimu bukanlah suatu pilihan yang tepat Dan menyayangimu pun bukanlah apa yang aku harap kan ku teruskan Singkat harapnya aku resah dibalik tirai - tirai yang menjuntai merangkai kata kata dibalik senyum palsu ini Namun akalku tak sampai hati tuk menyadari bahwa semua harap ini hanyalah ilusi Depresiku terangkat memakan detik dan masa bahagiaku Merenggut tawa dan rasa tentram hati di setiap ingatan tentang kenangan gembira di masa dimana aku dan kamu bukanlah dua insan yang berusaha tak saling tatap dalam lajur lorong searah Jika memang harap dan rasaku ini adal...

Kemana?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Hari ini Juni tanggal tujuh tahun 2016. Aku masih mencari Mencarimu Mencari jiwamu yang lalu Kehilangan Aku rasa aku kehilangan kamu yang dulu Aku tau, bukan suatu kesalahan jika seseorang berubah Namun apakah janji yang pernah kamu ucap hanyalah sebuah kalimat kelabu? Ketika aku berusaha tak membuat patah lagi hati siapapun Namun kamu? Kembali mengulang salah pada hal yang sudah ku ikrarkan bahwa itu menyakitkan Bukan, bukan aku tak suka atas perasaanmu Bukan pula aku tak suka dengan keadaan Aku hanya benci tentang bagaimana aku dan kamu berhenti menjadi teman Ya, kita dulu teman baik. Namun sekarang? Aku rasa tidak bagimu Tidak pula bagiku Apa kita sudah berhenti ? Aku tidak suka Bagaimana perasaan bisa membuatku kehilangan lagi Bukan kamu dan dia yang kupermasalahkan Sebab ini adalah tentang aku dan kamu Perasaanmu dengannya adalah urusanmu dan dia Bukan urusanku Namun s...

Belum, aku belum memulai lagi.

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Tiga banding sepuluh Aku ingin lupa Aku ingin berhenti Aku ingin tidak peduli Namun mengapa masih saja sajak dan bait bait tulisanku memilihmu sebagai tujunya? Jika saat ini kamu sedang membaca satu dari sekian puluh (mungkin akan menjadi ratus/ribu) coretanku tentang sikapmu, dan jika kamu kan bertanya 'Untuk apa masih menulis tentangku?' Maka jawabannya sederhana 'Aku belum bisa memulai lagi' Banyak yang berucap 'Memulai tak sesulit mempertahankan' Ya memang, membuka rumah untuk sosok baru memang mudah. Namun membiarkannya tetap di dalam kemudian menguncinya rapat kembali adalah sesuatu yang berbeda. Sebab kamu selalu mendesak sosok baru itu pergi acap kali ia sudah jelas menginap cukup lama di rumah ini. Sebab kamu tidak pernah mau benar benar angkat kaki dari rumah ini Namun ketika aku menapak ke rumahmu Yang kupandang adalah rumah mewah dengan penghuninya...

Ada yang lepas

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku Pada akhirnya yang kamu miliki adalah kehilangan. Kehilangan yang hanya akan menyisakan satu pertanyaan. Kamu ingat? Bahwa sebelumnya kamu pernah merasa benar benar berarti. Kamu benar benar merasa seolah dipertemukan dengan sebuah kebahagiaan tak berujung Seolah kamu memliki waktu lebih panjang lagi untuk menikmati alur ceritanya Seolah kamu selalu punya kesempatan untuk menulis ulang kisahnya selagi kamu menginginkannya. Kamu pernah berperasa enggan meninggalkan jalan itu. Kamu pernah berangan masih terus kuat berlari hingga ke ujung jalannya. Tak peduli liku, tak peduli hujan, tak peduli lubang dan tak peduli atas segala yang telah menerpa. Kamu pernah merasakannya bukan? Kamu pernah juga merasa menjadi orang paling bahagia karena berhasil berdiri tegak di tepi tepi jalanan itu? Dan kamu juga pernah merasa selalu terjaga di lingkup persimpangan itu. Kamu pernah mera...

Hanya sebatas rasa

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Senja hari ini, hendak menyampaikan salam dari seseorang yang sedang jatuh cinta pada si pemilik hatinya. Begini tuturnya, "Selamat sore, Teruntuk pelabuhan lama yang telah aku tinggalkan, untuk pelabuhan baru yang kelak ku singgahi atau pelabuhan terakhirku yang masih belum sanggup ku tepikan. Kamu boleh membenciku dengan aku dan perasaanku. Tapi kamu tidak berhak membenci dan mengekangku atas aku dan karyaku. Yang kuberi hanya sekadar rasa yang ku utarakan lewat setiap sajak, seni dan apapun yang ku percaya membuatku tenang dan bahagia tanpa merisaukanmu. Tanpa mengganggu kehidupanmu. Dan tanpa mengusikmu dan orang orang terdekatmu. Sekarang aku tengah diam, aku tidak pernah lagi berkutik terlalu jauh terkait kehidupanmu. Sekarang kamu dan hidupmu adalah urusanmu. Biarlah, ini semua hanya sebatas rasa. Sementara tidak ada yang salah dan bisa disalahkan soal sebuah rasa. Sebagaima...

Jatuh

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Kamu tanya ia dimana? Ia berhenti di sebuah persimpangan Ia menghentikan langkah nya Memadamkan amarahnya Menepiskan sudah segala harapnya Namun dalam posisi diamnya Ia tetap dibiarkan terdorong Hingga jatuh tersungkur ke sebuah lubang sakit hati di persimpangan itu Tak bereaksi Tak mengelak Tak memberontak Diam Hanya itu yang ia lakukan Namun apakah dalam diamnya saja ia tetap tak diberikan sisi untuk berdiri kokoh dalam pendirian dan keyakinannya sendiri? Ia pun manusia, sama sepertimu Jika disakiti hatinya patah Jika dilukai bertambah sudah goresannya Jika dikhianati rusak sudah kepercayannya Lantas mengapa dalam posisi mempercepat gaya, diam, dan memperlambat gaya pun ia tetap satu satunya yang kamu anggap maya dan tak pernah kamu anggap berarti "Terimakasih lagi atas lukanya." begitu pesannya. Semoga kelak ia kan tetap bahagia walau masih dalam sudut sepi berh...

Tenggelam lagi?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku, Ya, manusia itu kembali terhempas Tunggu, bukan. Bukan lagi terhempas Ia tenggelam lagi Bersama ombak ombak yang masih terus menari dibawah saksi bulan purnama Ia terjatuh lagi Terbuang dari sisi sisi keberadaannya, tersingkir jadi puing puing asa yang masih penuh harap Rupanya masih sama Keadaannya yang menolak kenyataan pahit atau bahkan telah menerima masih tetap menyiksa batinnya. Perbuatan nya memberontak dan diam pun masih saja terdakwakan Lucu memang Sosok itu kembali hadir di memori Menyapa ingatan menyakitkan tentang masa yang telah berbeda Tentang hentakan dan pukulan batin yang membuatnya berubah Ah ia sedih lagi, tersungkur dalam sepi Teringat kembali tentang segala benang benang ingatan manis tentang kasih dan harapan Bukan tentang kejam, siksa, dan khianat Tenggelam lagi? Sudah pasti Sekarang entah yang menolong masih akan mau datang atau sudah berlayar pergi membawa...

Akhir ceritakah?

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Merangkak pergi atau terdiam di satu jalur? Apalagi yang bisa dilakukan oleh seonggok manusia sepertinya. Ketika pedulinya sudah diberi Ikrarnya telah ditepati Namun harapannya justru selalu pergi Tidak ada yang salah dengan harapan Tidak ada yang salah pula dengan sebuah perasaan yang kondang dengan nama cinta Pada dasarnya, setiap orang yang mencintai pasti memiliki harapan. Entah harapan untuk memiliki, harapan agar bisa terus menyayangi, atau harapan agar mampu berhenti atas perasaannya sendiri. Tidak lagi soal kehendak diri, namun kebahagiaan kedua sisi adalah harapannya. Karena pada dasarnya pula kamu mulai menyayangi seseorang ketika kamu telah memberikan kesempatan padanya untuk menyakitimu. Jadi sekarang, entah memang sudah habis masanya atau memang sudah ikhlas dirinya. Ia akan membiarkanmu pergi, dan bahagia. Tak perlu bersembunyi lagi, karena ia mungkin juga akan berhenti m...

Disini atau pergi?

06/04/2016 23:17 Ah sial. Aku merindumu lagi. Memori itu menyapa (lagi), menyapaku dengan tenang. Seolah ingin berbincang sejenak  tentang mu dan aku dalam sirat waktu lampau. Benang benang ingatan seolah semakin memaksa reaksi atas setiap perasaan yang meletup setiap kali masa itu hadir. Tertatih, letih, pedih, masih sedih. Kamu curang, melakukan percepatan gaya. Hingga kamu sampai di finish lebih dulu, tak bersamaku pula. Dan kini, aku terhenti di titik tengah sirkuit. Miris. Mengharapmu memutar kembali arahmu saat kamu sudah dapat medali di ujung jalanmu. Menikmati bahagia bersama raga lain. Walau ku tau beberapa bagian dari jiwamu masih tersangkut di aliran aliran perasaanku.

Masih sama, atau mungkin semakin dalam.

Tidak semua yang aku tulis adalah kamu dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. Masih sama? Ya benar masih sama sakitnya. Seperti tenggelam tetapi tidak ada yang menyadarinya Semua sudah sibuk dengan kapalnya masing masing, entah yang ingin cepat sampai pelabuhan atau yang ingin segera berangkat meninggalkan puing-puing rindu tak bertepi di pesisir pantai. Karena pada dasarnya setiap kali rapuh, direnovasi secanggih apapun tetap masih membekas. Tidak bisa seperti awal lagi, kalaupun kembali mungkin ia kembali dengan sisa sisa kenangan pahit yang masih akan terus (mau tidak mau) diingat. Semakin dalam? Bukan sebuah tidak mungkin Kalau ia terus dibiarkan tenggelam, lama lama permintaannya akan habis Yang tersisa hanya penyesalan terdalam didasar sana Seperti sebuah mesin, kalau saja satu bagiannya hilang mungkin kepergiannya tidak disadari secepat kilat Namun ketika sudah waktunya bagian itu bekerja, barulah semua sadar bahwa ia telah hilang Karena memang pada dasarny...

Tenggelam lagi-

T idak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. 01/04/2016 20:09 Maaf jika tulisanku tetap untukmu. Maaf jika sajak sajakku tetap menetapkanmu sebagai pelabuhan terakhirnya. Maafkan jika kamu ku sayangi. Namun sesungguhnya kamu pun semestinya mengerti bahwa melupakanmu tak pernah semudah ku melepaskan hatiku untuk kau patahkan. Ya semestinya, tapi nyatanya pun kamu tak pernah mau mengerti. 02/04/2016 05:15 Merindu. Pekerjaan mulia manusia yang terus menerus menyimpan rasa untukmu ini. Manusia yang selalu ingin melindungi dan menjagamu. Walau dianggap sudah hilang akal oleh sekitar, ia tak bisa berhenti karena bahwasannya perasaannya selalu menang atas segala fikir dalam akalnya. Ia terlalu kuat. Namun sekarang ia telah menjadi kepingan yang entah akan bersatu saat bertemu siapa. 17:14 Hubungan kita sudah terlalu jauh. Ya. Kamu membuangku terlalu jauh dan aku telah mempertahankanmu begitu jauh.

Bukan penulis yang baik.

T idak semua yang aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah ceritaku. 29/12/2015 23:17 Bicara soal kenangan. Semua hal memang dekat dengan kenangan. Karena apa yang telah terjadi memang akan berlalu, dan akan menjadi kenangan. Namun, kamu tau? Satu hal yang tidak aku pahami soal kenangan. Ia selalu berhasil membawaku mengulang semuanya termasuk membawa hati ini pulang padamu. 23:59 Berpura pura tidak mencintai itu sulit. Kamu harus tau. Dan kamu tau alasan dari semua itu adalah, karena aku takut perasaanku ini menjauhkan kita. Membuat jarak diantara kita semakin luas. Memperlebar ruang kebencian yang perlahan berdiri karena perasaanku sendiri. Maafkan perasaan ini. Maafkan temanmu ini. Sungguh berat menulis kata teman diantara kita sementara yang kurasakan adalah cinta. Bukan sekedar teman. 26/01/2016 18:07 Aku tidak tau tindakanmu yang mana lagi yang membuatku begitu tabah mempertahankan rasa ini. Yang kutau semua yang pernah kau ber...